Senin, 05 November 2012

Permasalah Sosial di Ibu Kota

          Membahas mengenai Jakarta sebagai ibu kota Indonesia memang tiada habisnya. Mulai dari infrastruktur, penduduk, pendidikan, bahkan gaya hidup yang menjadi trendsetter di Indonesia. Kalau dipikir-pikir semua orang di Indonesia dari Sabang sampai Merauke pasti ingin datang kesana. Tak heran, banyak cara yang dilakukan penduduk diluar Jakarta untuk sekedar mengadu nasib ataupun menikmati keindahan kotanya. Namun sayang, semua makna keindahan Jakarta itu sirna karena banyaknya permasalahan sosial yang terjadi.

          Menurut polling pada Forum Detik.com, permasalahan sosial yang tertinggi adalah Penyakit , kesenjangan sosial , kemisikinan . Ada juga responden yang memilih masalah pengangguran, kriminalitas, ledakan penduduk, dan urbanisasi.
       
          Mengenai penyakit masyarakat yang sering kita lihat adalah banyak warga Jakarta yang membuang sampah di sungai, mencuci, memasak, bahkan sampai hal yang bersifat pribadi pun di lakukan di sungai itu juga. Bukan pilihan mereka kalau melakukan seperti itu. Apa mau dikata, mereka telah datang ke Jakarta bahkan bermukim di bantaran sungai misalnya hingga bertahun-tahun karena tidak mempunyai keahlian yang tetap dan bisa dipertimbangkan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di kota ini. Banyak orang mengemis, gelandangan, dan pengamen yang sering ditemui di Jakarta karena mereka ingin mengadu nasib tanpa memikirkan bagaimana kedepannya. Hanya berpikir bahwa Jakarta adalah kota impian, kota peruntungan mereka untuk menuju masa depan yang lebih baik, tapi nyatanya? Makin banyak pengangguran dimana-mana.

         Kesenjangan Sosial juga terjadi di Jakarta begitu banyak masyarakat di jakarta yang terlantar tidur di bawah jembatan sungai sungai dsb , membuat kriminalitas semakin banyak akibat kesenjangan sosial tersebut. Berbanding terbalik dengan para petinggi atau pejabat di ibu kota mereka dengan pedagang atau gelandangan yang mengadu nasib di jakarta , mereka begitu santainya dan nikmatnya tinggal di Ibu kota, tanpa pernah memikirkan nasib para gelandangan ataupun pedagang pedagang asongan.

     Pedagang kali lima juga sering ditemui di jalan-jalan. Mereka umumnya berjualan makanan, minuman, pakaian, ataupun aksesoris. Sering kita lihat di berita mengenai petugas-petugas Satpol PP yang menggelandang mereka, mengusir, bahkan membawa barang dagangan mereka. Yang lebih kejam lagi adalah merobohkan lapak mereka, tempat mereka mencari nafkah. Memang terlihat kejam, tapi apa mau dikata. Para pedagang kakilima tidak punya pilihan, meraka mau kerja apa di Jakarta kalau memang standar untuk mendapatkan pekerjaan di jakarta semakin tinggi, belum lagi banyak pelamar pekerjaan yang berkompeten datang dari luar kota sehingga persaingan untuk mencari pekerjaan yang pasti semakin ketat.
       Jakarta memang banyak sampah, sampah yang menggenang di sungai atapun berserakan di jalan. Masyarakat Indonesia memang belum paham benar arti sampah yang kalau dibuang pada tempatnya akan bermanfaat baik dan begitu sebaliknya akan mengakibatkan bencana. Jelas dalam pengetahuan teori tentang sampah dari anak kecil hingga dewasa tahu. Akan tetapi, realitanya? mungkin nol besar. Jakarta banjir karena banyak sampah menghambat daerah aliran sungai selain karena drainase disana yang kurang begitu efektif. Lahan untuk penyerapan air berkurang karena semakin banyak pembangunan yang berjalan. Jadi, memang berharga sekali sampah jika kita bisa memanfaatkannya seperti beberapa warga Jakarta yang berjuang demi lingkungan hidupnya.
        Tingginya tingkat selera konsumsi yang tidak diimbangi dengan tingkat produksi dan penggajian atau prestasi kerja yang wajar menimbulkan masalah sosial tersendiri bagi Jakarta. Sementara tata ruang, penggunaan kekuatan ilegal untuk menduduki tanah-tanah dalam wilayah kota yang bukan miliknya atau fasilitas-fasilitas lainnya, dan kemunculan wilayah-wilayah pemukiman liar dan kumuh di daerah perkotaan yang berfungsi sebagai kantong-kantong kemiskinan seakan menjadi pensosialisasian kriminalitas, pelacuran, kenakalan dan kejahatan remaja serta alkoholisme bagi ibukota Jakarta.

      Berbagai permasalahan sosial ini kian berkembang tidak terkendali diakibatkan ketidak mampuan daya dukung lingkungan perkotaan. Secara keseluruhan masalah-masalah tersebut juga turut mendorong terwujudnya lingkungan hidup perkotaan yang tidak kondusif bagi Jakarta. Bahkan dapat meresahkan karena berbagai persoalan terus menerus muncul, berkembang, dan menjadi laten dalam kehidupan masyarakat ibukota Jakarta.
Persoalan ini kian pelik tatkala berhadapan dengan kondisi masyarakat Jakarta yang sangat heterogen Dengan demikian penanganan masalah-masalah yang muncul di Jakarta pun tidak bisa diseragamkan atau disamaratakan antara satu kawasan dengan kawasan lainnya, atau satu masalah dengan masalah lainnya.

     Dari sisi krirninalitas, di wilayah hukum Polda Metro Jaya ini ada empat katagori kejahatan. Pertama, kejahatan konvensional (pencurian, perampokan, perkelahian). Kedua, transnasional crime (kejahatan transnasional) yang terkadang lintas negara, seperti narkoba, illegal logging, terorisme, dan lainnya. Ketiga, kejahatan yang berkaitan dengan kerugian terhadap kekayaan negara (korupsi, illegal mining, illegal fishing). Keempat, kejahatan yang berimplikasi pada masalah-masalah rasial. Sama seperti di daerah lain, kejahatan yang paling menonjol di Jakarta dari waktu ke waktu adalah kejahatan konvensional, khususnya kejahatan jalanan.

      Keempat katagori kejahatan tersebut tumbuh dan berkembang bersama permasalahan kontijensi yang muncul, terutama dalam beberapa tahun belakangan ini. Dari analisa dan evaluasi yang dilakukan jajaran Polda Metro Jaya tersimpulkan bahwa di wilayah hukumnya ada tiga permasalahan kontijensi yang patut diwaspadai. Yaitu permasalahan kontijensi yang disebabkan manusia, permasalahan kontijensi yang disebabkan alam. dan permasalahan kontijensi yang diakibatkan kerusakan infrastruktur. Semua ini mau tidak mau telah menjadi karakteristik kerawanan daerah (Kakerda) di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
        Permasalahan sosial seperti diatas setiap tahun semakin bertambah. Oleh karena itu, Keberadaan Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) DKI Jakarta diharapkan bisa lebih berkontribusi dalam penanganan kesenjangan sosial di DKI Jakarta yang memang sangat dibutuhkan. Dengan langkah kepedulian yang konkret, kontribusi yang dihasilkan diharapkan dapat membantu Pemprov DKI Jakarta dalam mengatasi permasalahan kemiskinan dan ketelantaran Kriminalitas, sehingga upaya yang telah dilakukan menjadi lebih maksimal.
        Pengurus BKKKS DKI yang terbentuk diharapkan bisa seiring dan sekata dalam melaksanakan berbagai program yang tujuan akhirnya adalah mengatasi permasalahan kemiskinan dan ketelantaran di wilayah DKI Jakarta.

      Ini semua bisa terlaksana dengan baik jika semua pengurus bekerja keras untuk menjalankan amanah yang diberikan. InsyaAllah dengan dukungan dan bantuan dari semua pihak termasuk masyarakat di Jakarta yang memiliki kepedulian tinggi, semua rencana BKKKS akan tercapai sesuai rencana.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar